sore yang hening,
bersama setitik cahaya yang kian meredup
dengan setetes rasa yang selalu tersirat
kududuk dihadapmu dengan ragu
mengucap sepatah kata
yang tak pernah kutahu jawabnya
setahun berlalu dengan singkat,
mengiringi sejuta harap yang tak pernah redup
walau ku tak tahu apa yang terucap
aku masih terdiam didalam gelap
mencoba bertahan dalam tenang
september membangunkanku
aku sadar, aku hanya sebuah minoritas dari cinta
yang tak pernah merasakan indahnya
yang tak tahu arti dari semua itu
yang selalu kalah oleh keadaan
aku bukan raja dari segala hal
aku hanya berjalan mengikuti kata hati
aku hanya mencintai sesuatu yang pantas bagiku
aku hanya menyanyangi sesuatu yang kulihat
tak tahu di dunia mana langakahku berhenti
aku hanya ingin kau tahu
aku menganggapmu pantas menerima semua itu
agar kau bisa mengartikan semua yang tak terucap
Apapun yang akan terjadi
apapun yang akan aku dapat
takkan pernah aku sesali
takkan pernah menyesal
bangunkan aku ketika september itu datang kembali
bangunkan aku ketika cahaya september mulai menyapaku...
5 september 2010
Minggu, 05 September 2010
Rabu, 25 Agustus 2010
Kesibukan Para Malaikat di Surga
Seseorang bercerita, aku bermimpi suatu hari aku pergi ke surga dan seorang malaikat menemaniku serta menunjukkan keadaan di surga. Memasuki suatu ruang kerja yang penuh dengan para malaikat. Malaikat yang mengantarku berhenti di depan ruang kerja pertama dan berkata,"
Ini adalah Seksi Penerimaan.
Disini, semua permintaan yang ditujukan pada Allah, diterima".
Aku melihat-lihat sekeliling tempat ini dan aku dapati tempat ini begitu sibuk dengan begitu banyak malaikat yang memilah-milah seluruh permohonan yang tertulis pada kertas dari manusia di seluruh dunia.
Kemudian,....
aku dan malaikat-ku berjalan lagi melalui koridor yang panjang. lalu sampailah kami pada ruang kerja kedua.
Malaikat-ku berkata,
"Ini adalah Seksi Pengepakan dan Pengiriman.
Disini, kemuliaan dan rahmat yang diminta manusia diproses dan dikirim ke manusia-manusia yang masih hidup yang memintanya".
Aku perhatikan lagi betapa sibuknya ruang kerja itu. Ada banyak malaikat
yang bekerja begitu keras karena ada begitu banyaknya permohonan yang dimintakan dan sedang dipaketkan untuk dikirim ke bumi.
Kami melanjutkan perjalanan lagi hingga sampai pada ujung terjauh koridor panjang tersebut dan berhenti pada sebuah pintu ruang kerja yang sangat kecil.
Yang sangat mengejutkan aku, hanya ada satu malaikat yang duduk disana, hampir tidak melakukan apapun.
"Ini adalah Seksi Pernyataan Terima Kasih", kata Malaikatku pelan. Dia tampak malu.
"Bagaimana ini? Mengapa hampir tidak ada pekerjaan disini?", tanyaku.
Menyedihkan", Malaikat-ku menghela napas. "Setelah manusia menerima rahmat yang mereka minta, sangat sedikit manusia yang mengirimkan pernyataan terima kasih".
"Bagaimana manusia menyatakan terima kasih atas Rahmat Tuhan?", tanyaku.
"Sederhana sekali", jawab Malaikat.
"Cukup berkata,
'ALHAMDULILLAHI RABBIL AALAMIIN, Terima kasih, Tuhan' ".
"Lalu, rahmat apa saja yang perlu kita syukuri?”, tanyaku.
Malaikat-ku menjawab,
1)."Jika engkau mempunyai makanan di lemari es, Pakaian yang menutup tubuhmu, atap di atas kepalamu dan tempat untuk tidur, Maka engkau lebih kaya dari 75% penduduk dunia ini.
2)."Jika engkau memiliki uang di bank, di dompetmu, dan uang-uang receh, maka engkau berada diantara 8% kesejahteraan dunia.
3)."Dan jika engkau mendapatkan pesan ini di komputermu,engkau adalah bagian dari 1% di dunia yang memiliki kesempatan itu.
Ini adalah Seksi Penerimaan.
Disini, semua permintaan yang ditujukan pada Allah, diterima".
Aku melihat-lihat sekeliling tempat ini dan aku dapati tempat ini begitu sibuk dengan begitu banyak malaikat yang memilah-milah seluruh permohonan yang tertulis pada kertas dari manusia di seluruh dunia.
Kemudian,....
aku dan malaikat-ku berjalan lagi melalui koridor yang panjang. lalu sampailah kami pada ruang kerja kedua.
Malaikat-ku berkata,
"Ini adalah Seksi Pengepakan dan Pengiriman.
Disini, kemuliaan dan rahmat yang diminta manusia diproses dan dikirim ke manusia-manusia yang masih hidup yang memintanya".
Aku perhatikan lagi betapa sibuknya ruang kerja itu. Ada banyak malaikat
yang bekerja begitu keras karena ada begitu banyaknya permohonan yang dimintakan dan sedang dipaketkan untuk dikirim ke bumi.
Kami melanjutkan perjalanan lagi hingga sampai pada ujung terjauh koridor panjang tersebut dan berhenti pada sebuah pintu ruang kerja yang sangat kecil.
Yang sangat mengejutkan aku, hanya ada satu malaikat yang duduk disana, hampir tidak melakukan apapun.
"Ini adalah Seksi Pernyataan Terima Kasih", kata Malaikatku pelan. Dia tampak malu.
"Bagaimana ini? Mengapa hampir tidak ada pekerjaan disini?", tanyaku.
Menyedihkan", Malaikat-ku menghela napas. "Setelah manusia menerima rahmat yang mereka minta, sangat sedikit manusia yang mengirimkan pernyataan terima kasih".
"Bagaimana manusia menyatakan terima kasih atas Rahmat Tuhan?", tanyaku.
"Sederhana sekali", jawab Malaikat.
"Cukup berkata,
'ALHAMDULILLAHI RABBIL AALAMIIN, Terima kasih, Tuhan' ".
"Lalu, rahmat apa saja yang perlu kita syukuri?”, tanyaku.
Malaikat-ku menjawab,
1)."Jika engkau mempunyai makanan di lemari es, Pakaian yang menutup tubuhmu, atap di atas kepalamu dan tempat untuk tidur, Maka engkau lebih kaya dari 75% penduduk dunia ini.
2)."Jika engkau memiliki uang di bank, di dompetmu, dan uang-uang receh, maka engkau berada diantara 8% kesejahteraan dunia.
3)."Dan jika engkau mendapatkan pesan ini di komputermu,engkau adalah bagian dari 1% di dunia yang memiliki kesempatan itu.
Sabtu, 07 Agustus 2010
berdiskusi dengan hati
ketika angin sore mulai berhembus,
perlahan menuipkan kedinginan,
kini matahari mulai turun dari langit,
diiiringi awan yang menghiasi senja,
gelap mulai menyapa dengan tiupan angin,
cahaya Lampu mulai menyambut sang petang,
menghiasi langkahku menahan kesunyian,
menyinari sisi lain yang hilang,
kini aku mulai mencari kebenaran abadi,
aku mencoba berdiskusi dengan hati yang lirih,
meresapi ketidakberdayaan pikiran,
menghayati semua yang telah dan akan terjadi,
tak terasa malam kini semakin Larut,
aku masih duduk sendiri disini,
mencari jalan tentang semua keresahan,
menyendiri sepi pecahkan pertanyaan yang datang,
jawaban itu.....
kemanakah kutemukan arah dari semua yang tergema,
dimanakah kubersandar saat kaki-kaki telah letih,
ku hanya melihat cahaya sang bulan,
kulemparkan ribuan pertanyaan kepadanya,,
berharap kutemukan jawaban itu...
7 Agustus 2010
perlahan menuipkan kedinginan,
kini matahari mulai turun dari langit,
diiiringi awan yang menghiasi senja,
gelap mulai menyapa dengan tiupan angin,
cahaya Lampu mulai menyambut sang petang,
menghiasi langkahku menahan kesunyian,
menyinari sisi lain yang hilang,
kini aku mulai mencari kebenaran abadi,
aku mencoba berdiskusi dengan hati yang lirih,
meresapi ketidakberdayaan pikiran,
menghayati semua yang telah dan akan terjadi,
tak terasa malam kini semakin Larut,
aku masih duduk sendiri disini,
mencari jalan tentang semua keresahan,
menyendiri sepi pecahkan pertanyaan yang datang,
jawaban itu.....
kemanakah kutemukan arah dari semua yang tergema,
dimanakah kubersandar saat kaki-kaki telah letih,
ku hanya melihat cahaya sang bulan,
kulemparkan ribuan pertanyaan kepadanya,,
berharap kutemukan jawaban itu...
7 Agustus 2010
Langganan:
Postingan (Atom)